"Peristiwa Gerbong Maut Bondowoso"
Ini sekelumit kisah mengharukan saat jaman pendudukan Belanda, kisah ini dimulai saat Belanda melakukan penangkapan besar-besaran terhadap TRI, laskar, gerakan bawah tanah dan orang-orang tanpa menghiraukan apakah yang bersangkutan berperan atau tidak dalam kegiatan perjuangan.
Sehingga dalam waktu singkat penjara Bondowoso tidak mampu lagi menampung tahanan yang pada waktu itu mencapai ± 637 orang. Belanda bermaksud memindahkan tahanan yang termasuk "pelanggaran berat" dari penjara Bondowoso ke penjara Surabaya.
Untuk mengangkut para tahanan tersebut digunakan sarana kereta api.
Setiap tahap pengangkutan memuat sebanyak 100 orang. Pemindahan pertama dan kedua berjalan dengan baik karena gerbong yang mengangkut tahanan diberi ventilasi seluas 10-15 cm. Namun saat pemindahan tahap ketiga, gerbong tertutup sangat rapat dan selama perjalanan rakyat tidak boleh mendekati gerbong. Akibatnya, semua tahan dalam gerbong menderita kelaparan dan kehausan. Pemindahan tahap ketiga inilah yang dikenal dengan sebutan "Gerbong Maut".
Setelah mendapat perintah langsung dari Komandan J Van den Dorpe, Kepala Penjara mengumpulkan semua tahanan yang telah tercatat namanya. Pada Sabtu, 23 November 1947, jam 04.00 WIB, tahanan yang tercatat dibangunkan secara kasar lalu dikumpulkan di depan penjara. Rincian tahanan adalah sebagai berikut: rakyat desa (20 orang), kelaskaran rakyat dan gerakan bawah tanah(30 Orang), anggota TRI (30 orang), dan tahanan rakyat serta polisi (20 orang). Pada jam 05.30 WIB tahanan tiba di Stasiun Kereta Api Bondowoso. Sebanyak 32 orang masuk gerbong pertama yang bernomor GR 5769; 30 oarang ke gerbong kedua yang bernomor GR 4416, sisanya berebutan masuk ke gerbong yang terakhir bernomor GR 10152 karena panjang dan masih baru.
Pada jam 07.00 WIB kereta dari Situbondo datang. maka, saat itu juga gerbong digandeng.
Menurut Ru Munawar yang masuk gerbong pertama, setelah gerbong dikunci, keadaan menjadi gelap gulita dan udara tersa panas walaupun masih pagi. Jam 07.30 kereta bergerak menuju Surabaya. tepat di Satsiun Taman, mulai terjadi peristiwa memilukan, Kiai Samsuri 50 Tahun, membanting-bantingkan tubuhnya sambil berteriak kepanasan. Jangankan diisi 30 Orang, 10 orang saja sudah terbayang panasnya. gedoran-gedoran para tahanan sudah tidak digubris bahkan dijawab dengan bentakan pedas; "Biar kalian mampus semua, hai anjing ekstrim!, atau "Di sini tidak ada makanan dan air minum, yang ada cuma peluru".
Ketika tiba di Stasiun Kalisat, gerbong tahanan harus menunggu kereta dari Banyuwangi.
Selama dua jam para tahanan berada dalam terik matahari. Akhirnya pada jam 10.30 WIB kereta baru berangkat dari Jember ke Probolinggo. Setelah meningglkan Jember di siang hari, suasana gerbong bagaikan didalam neraka karena atap dan dinding gerbong terbuat dari plat baja.Banyak terjadi peristiwa diluar batas kemanusiaan, misalnya guna mempertahankan hidup dari kehausan sebagian para tahanan terpaksa meminum air kencing tahanan yang lainnya.
Mendekati Stasiun Jatiroto, Allah SWT menebarkan rahmat-NYA. Hujan yang cukup deras dimanfaatkan para tahanan yang masih hidup untuk meneguk tetes demi tetes air dengan menjilat tetesan air yang berasal dari lubang-lubang kecil.Tidak demikian halnya dengan gerbong ketiga GR10152. karena masih baru, para tahanan tidak mendapatkan tetesan air sedikitpun. Ketika sampai di Surabaya, dalam gerbong ketiga (GR10152) tidak ada satupun yang hidup.
Setelah menempuh perjalanan selama 16 jam, Gerbong Maut sampai di Stasiun Wonokromo.
Jam menunjukkan pukul 20.00 WIB.
Setelah didata, di gerbong I No. GR 5769 sebanyak 5 sakit keras, 27 orang sehat tapi kondisi lemas lunglai, Gerbong II No. GR.4416 sebanyak 8 orang meninggal, 6 orang sehat, dan di Gerbong III No. GR. 10152 seluruh tawanan sebanyak 38 orang meninngal semua.
Para tahanan yang sehat dipaksa menganggkut temannya yang sudah meninngal. Semua jenazah diletakkan secara sejajar. Setelah dievakuasi, lalu diangkut ke truk yang telah disediakan. Jenazah harus diangkut dengan sangat hati-hati sebab kalau tidak maka daging jenazah akan mengelupas akibat kepanasan. ( ref. Pondok Teratai )
Rabu, 29 Mei 2013
Selasa, 21 Mei 2013
Sejarah Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei
Indonesia adalah negara kepulauan yang
terdiri dari tidak kurang 13.000 pulau yang tersebar dari Sabang hingga Merauke
(hasil survei dan verifikasi terakhir Kementerian Kelautan dan Perikanan).
Beragam suku bangsa, bahasa dan agama juga menjadi hal yang unik dari Bangsa
Indonesia. Sedikit saja gesekan yang terjadi dalam masyarakat maka akan
berakibat fatal, sering kita saksikan dalam media massa beberapa peristiwa yang
mencabik-cabik rasa nasionalisme kebangsaan. Perang antar suku, pemberontakan,
tawuran warga dan lain-lain yang dapat menjadi pemicu disintegrasi bangsa.
.Untuk itu diperlukan rasa kebangsaan yang tinggi agar Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya semboyan yang menjadi slogan belaka, tetapi benar-benar dapat menjiwai perilaku seluruh rakyat Indonesia. Dan salah satu hal yang bisa menumbuhkan rasa kebangsaan adalah Kebangkitan Nasional, bangkit dari keterpurukan, bangkit dari ketertinggalan, bangkit dari ketidakadilan, bangkit dari kemiskinan dan kebodohan. Sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesaia (NKRI) seharusnya Pemerintah memberikan perlakuan yang sama terhadap rakyatnya dari Sabang sampai Marauke, bila rakyat di satu wilayah sejahtera maka selayaknya rakyat di wilayah lainpun sejahtera agar asas Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia dapat diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Jika kita kembali kepada sejarah, kebangkitan nasional merupakan peristiwa bangkitnya semangat persatuan, kesatuan dan nasionalisme diikuti dengan kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Selama masa penjajahan semangat kebangkitan nasional tidak pernah muncul hingga berdirinya Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 dan ikrar Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.yang didirikan pada tanggal 20 Mei 1908 oleh Dr. Sutomo dan para mahasiswa STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) yaitu Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeraji serta digagas oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo pada awalnya bukan organisasi politik, tetapi lebih kepada organisasi yang bersifat sosial, ekonomi, dan kebudayaan.
Namun seiring waktu Boedi Oetomo kemudian menjadi cikal bakal gerakan yang bertujuan untuk kemerdekaan Indonesia.Kongres pertama Boedi Oetomo diselenggarakan tanggal 3 - 5 Oktober 1908 di Yogyakarta. Saat itu organisasi Boedi Oetomo telah memiliki tujuh cabang di beberapa kota yaitu Batavia, Bogor, Bandung, Magelang, Yogyakarta, Surabaya, dan Ponorogo. Pada kongres pertamanya ini Raden Adipati Tirtokoesoemo (mantan bupati Karanganyar) yang berasal dari kaum priyayi diangkat sebagai presiden.Organisasi Budi Utomo yang pertama. Dan sejak itu banyak anggota baru yang berasal dari kalangan bangsawan dan pejabat kolonial bergabung dengan organisasi Boedi Oetomo, namun hal ini justru membuat anggota dari kalangan pemuda memilih keluar dari organisasi ini.
Organisasi Boedi Oetomo sendiri dalam perjalanan sejarahnya mengalami beberapa kali pergantian pimpinan dan sebagian besar berasal dari kalangan bangsawan seperti Raden Adipati Tirtokoesoemo mantan Bupati Karanganyar yang menjadi presiden pertama Budi Utomo dan Pangeran Ario Noto Dirodjo dari Keraton Pakualaman Berturut-turut setelah Boedi Oetomo didirikan pada tahun 1908 diikuti berdirinya Partai Politik pertama di Indonesia Indische Partij pada tahun 1912, kemudian pada tahun yang sama Haji Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam di Solo, KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah di Yogyakarta, Dwijo Sewoyo dan kawan-kawan mendirikan Asuransi Jiwa Bersama Boemi Poetra di Magelang.
Karena dianggap sebagai organisasi yang menjadi pelopor bagi organisasi kebangsaan lainnya sebagaimana disebutkan di atas, maka tanggal kelahiran Boedi Oetomo yaitu 20 Mei ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional (reff.info hist)
.Untuk itu diperlukan rasa kebangsaan yang tinggi agar Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya semboyan yang menjadi slogan belaka, tetapi benar-benar dapat menjiwai perilaku seluruh rakyat Indonesia. Dan salah satu hal yang bisa menumbuhkan rasa kebangsaan adalah Kebangkitan Nasional, bangkit dari keterpurukan, bangkit dari ketertinggalan, bangkit dari ketidakadilan, bangkit dari kemiskinan dan kebodohan. Sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesaia (NKRI) seharusnya Pemerintah memberikan perlakuan yang sama terhadap rakyatnya dari Sabang sampai Marauke, bila rakyat di satu wilayah sejahtera maka selayaknya rakyat di wilayah lainpun sejahtera agar asas Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia dapat diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Jika kita kembali kepada sejarah, kebangkitan nasional merupakan peristiwa bangkitnya semangat persatuan, kesatuan dan nasionalisme diikuti dengan kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Selama masa penjajahan semangat kebangkitan nasional tidak pernah muncul hingga berdirinya Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 dan ikrar Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.yang didirikan pada tanggal 20 Mei 1908 oleh Dr. Sutomo dan para mahasiswa STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) yaitu Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeraji serta digagas oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo pada awalnya bukan organisasi politik, tetapi lebih kepada organisasi yang bersifat sosial, ekonomi, dan kebudayaan.
Namun seiring waktu Boedi Oetomo kemudian menjadi cikal bakal gerakan yang bertujuan untuk kemerdekaan Indonesia.Kongres pertama Boedi Oetomo diselenggarakan tanggal 3 - 5 Oktober 1908 di Yogyakarta. Saat itu organisasi Boedi Oetomo telah memiliki tujuh cabang di beberapa kota yaitu Batavia, Bogor, Bandung, Magelang, Yogyakarta, Surabaya, dan Ponorogo. Pada kongres pertamanya ini Raden Adipati Tirtokoesoemo (mantan bupati Karanganyar) yang berasal dari kaum priyayi diangkat sebagai presiden.Organisasi Budi Utomo yang pertama. Dan sejak itu banyak anggota baru yang berasal dari kalangan bangsawan dan pejabat kolonial bergabung dengan organisasi Boedi Oetomo, namun hal ini justru membuat anggota dari kalangan pemuda memilih keluar dari organisasi ini.
Organisasi Boedi Oetomo sendiri dalam perjalanan sejarahnya mengalami beberapa kali pergantian pimpinan dan sebagian besar berasal dari kalangan bangsawan seperti Raden Adipati Tirtokoesoemo mantan Bupati Karanganyar yang menjadi presiden pertama Budi Utomo dan Pangeran Ario Noto Dirodjo dari Keraton Pakualaman Berturut-turut setelah Boedi Oetomo didirikan pada tahun 1908 diikuti berdirinya Partai Politik pertama di Indonesia Indische Partij pada tahun 1912, kemudian pada tahun yang sama Haji Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam di Solo, KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah di Yogyakarta, Dwijo Sewoyo dan kawan-kawan mendirikan Asuransi Jiwa Bersama Boemi Poetra di Magelang.
Karena dianggap sebagai organisasi yang menjadi pelopor bagi organisasi kebangsaan lainnya sebagaimana disebutkan di atas, maka tanggal kelahiran Boedi Oetomo yaitu 20 Mei ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional (reff.info hist)
Senin, 29 April 2013
PERINGATAN HARI KARTINI SALAH SATU KAMPUNG KOTA SURABAYA
Mars PKK
Marilah hai semua rakyat Indonesia membangun segra,membangun kluarga yang sejahtera dengan PKK.Hayatilah dan amalkan Pancasila, untuk NegaraHidup gotong royong makmur sandang dan pangan, rumah sehat sentosa .
Tata laksana didalam rumah tangga rapi dan indah,didiklah putra berpribadi bangsa trampil dan sehatkembangkan koprasi jagalah lingkungan dan sekitarnya,Aman dan bahagia kularga berencana, hidup jaya PKK
Mars Ibu Kita Kartini
Ibu kita kartini putri sejati,Putri Indonesia harum namanya Ibu kita Kartini, pendekar bangsa,pendekar kaumnya, untuk medeka
Reff : Wahai ibu kita Kartini putri yang mulia .Sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia,……dst
Lenggang Surabaya
Kini jauh sudah nampak,lenggangnya lenggang kota buaya, lemah gemulai menawan jalannya melenggang agak kebelakang.Kain batik Yogyakarta ,selop jinjit baju kain baya,selendang aksi dipundak ,melambai –lambaikan , sedap dipandangnya.
Reff : Glenak-glenuk……jalan lenggang…….lenggang lenggok …….Suroboyo……Nggang lenggang, Suroboyo………. Tak jemu mata memandang, hati goncang pikiran melayang ,tapi jangan mata keranjang ,akibatnya nanti , ditempeleng orang.
Dengan diringi elekton oleh ibu Purwito,ketiga lagu tersebut dinyanyikan dengan penuh semangat oleh ibu-ibu PKK RT 2 RW XIV , Bulak Banteng Baru Gang Melati, kelurahan Sidotopo Wetan Kota Surabaya pada peringatan Hari Kartini yang diselenggarakan pada tanggal 28 April 2013. Menurut Ibu Tamrin selaku ketua PKK RT 02, peringatan hari Kartini tahun akhirnya bisa terlaksana, biarpun tidak sesuai dengan tanggal yang sebenarnya yaitu 21 April.
“Sekitar 3 tahun kita tidak melaksanakan, inipun berkat kerja sama ibu-ibu yang telah sadar memperingatinya. Semangat ibu-ibu memang luar biasa. Untuk menyanyi saja tidak bisa , karena terdiri berbagai lapisan masyarakat mulai dari isteri tukang becak, buruh sampai dengan pegawai, berbaur menjadi satu.Untuk paduan suara latihan dimulai pada bulan Pebruari , rata-rata seminggu latihan satu kali.Terima kasih kepada ibu Purwito yang dulunya warga Rt 02 bersedia melatih dengan penuh ketekunan.Perlu diketahui bahwa diantara RT yang berada diwilayah RW XIV kelurahan Sidotopo Wetan , kecamatan Kenjeran kota Surabaya, RT 02 lah yang sepertinya agak tersisihkan. Diantara 7 RT, RT 02 lah yang situasi dan kondisinya kurang beruntung. Boleh dikatakan kumuh, tingkat sosial ekonomi yang rendah ditambah dengan tingkat pendidikan yang kurang. Tetapi dengan semangat Kartini semua bisa bekerja sama dengan penuh kesadaran. Dukungan ketua RT beserta staf ditambah kepedulian Ibu Purwito yang dulunya warga gang Melati, akhirnya acara ini bisa terlaksana dan insya Allah hanya RT 02 yang bisa melaksanakan hari Kartini tahun ini.Kita ingin mengangkat derajat Bulak Banteng Baru gang Melati. Kita ingin berbuat sesuatu bahwa dalam keadaan apapun , kita masih sempat memperingati hari Kartini. Perjuangan beliau jangan dilewatkan begitu saja. Ini menjadi catatan bahwa peringatan hari Kartini, tidak hanya disekolah atau di kantor pemerintah saja ,kita rakyat biasapun bisa melaksanakannya” demikian Ibu Tamrin ketua PKK yang juga sebagai kepala sekolah SD menyampaikan dengan penuh semangat.
Acara dimulai pukul 19.45 WIB bertambah semarak dengan hadirnya para tamu perwakilan PKK RT 01 sampai dengan RT 07, RW XIV Sidotopo Wetan. Sambutan Ketua PKK RW yang diwakili ibu HJ. Sofiah , merasa bangga terhadap terselenggaranya acara hari Kartini ini “ Selamat kepada RT 02, ini menjadi peringatan RT-RT lain. Kalau RT 02 bisa melaksanakan, mengapa RT lain yang lebih mampu tidak bisa ? “ kata ibu Sofiah setengah bertanya “ Banyak yang bisa kita ambil seri tauladan perjuangan RA Kartini . Kita bisa berbuat sesuatu untuk kemajuan bersama, tanpa menghilangkan kodrat seorang ibu, kodrat seorang wanita. Banyak tokoh yang mengangkat derajat kaum wanita, entah itu berprofesi seorang dokter, guru dan masih banyak lagi“kata ibu Hj Sofiah.
Sedangkan Ibu Mujianto setelah membacakan riwayat singkat R.A Kartini juga menyampaikan pesan, pentingnya membaca . “ Ingat ibu-ibu, bahwa seorang ibu bisa tanggap berkat pengetahuan. Pengetahuan diperoleh dengan rajin membaca. Ibu kita Kartini terbuka hatinya setelah korespondensi atau surat menyurat dengan sahabat penanya yang dinegeri Belanda waktu itu. Kegemaran membaca dan menulis, akan menambah wawasan, pengetahuan kita bertambah. Kita sebagai seorang wanita, yang juga sebagai pendamping suami , punya hak, punya derajat yang sama dengan kaum priya dengan catatan tidak meninggalkan korat sebagai wanita .Belajar tidak hanya dibangku sekolah, apalagi kita sudah tua , bahkan ada yang sudah menjadi nenek.Tidak mengenal batas usia untuk belajar.Berilah contoh kepada anak cucu kita, bahwa kita yang tua-tua ini masih mau belajar ” ujar ibu Mujianto, yang juga isteri mantan guru SMA Negeri dikota Surabaya. Setelah pembagian hadiah yang meliputi keluwesan dan lomba merias tanpa kaca,
acara ditutup pukul 21.00 WIB tepat.
menawi badhe mirengaken lagu saking pkk rt 02 rw 14 bulak banteng baru gg melati klik wonten mriki
Marilah hai semua rakyat Indonesia membangun segra,membangun kluarga yang sejahtera dengan PKK.Hayatilah dan amalkan Pancasila, untuk NegaraHidup gotong royong makmur sandang dan pangan, rumah sehat sentosa .
Tata laksana didalam rumah tangga rapi dan indah,didiklah putra berpribadi bangsa trampil dan sehatkembangkan koprasi jagalah lingkungan dan sekitarnya,Aman dan bahagia kularga berencana, hidup jaya PKK
Mars Ibu Kita Kartini
Ibu kita kartini putri sejati,Putri Indonesia harum namanya Ibu kita Kartini, pendekar bangsa,pendekar kaumnya, untuk medeka
Reff : Wahai ibu kita Kartini putri yang mulia .Sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia,……dst
Lenggang Surabaya
Kini jauh sudah nampak,lenggangnya lenggang kota buaya, lemah gemulai menawan jalannya melenggang agak kebelakang.Kain batik Yogyakarta ,selop jinjit baju kain baya,selendang aksi dipundak ,melambai –lambaikan , sedap dipandangnya.
Reff : Glenak-glenuk……jalan lenggang…….lenggang lenggok …….Suroboyo……Nggang lenggang, Suroboyo………. Tak jemu mata memandang, hati goncang pikiran melayang ,tapi jangan mata keranjang ,akibatnya nanti , ditempeleng orang.
Dengan diringi elekton oleh ibu Purwito,ketiga lagu tersebut dinyanyikan dengan penuh semangat oleh ibu-ibu PKK RT 2 RW XIV , Bulak Banteng Baru Gang Melati, kelurahan Sidotopo Wetan Kota Surabaya pada peringatan Hari Kartini yang diselenggarakan pada tanggal 28 April 2013. Menurut Ibu Tamrin selaku ketua PKK RT 02, peringatan hari Kartini tahun akhirnya bisa terlaksana, biarpun tidak sesuai dengan tanggal yang sebenarnya yaitu 21 April.
“Sekitar 3 tahun kita tidak melaksanakan, inipun berkat kerja sama ibu-ibu yang telah sadar memperingatinya. Semangat ibu-ibu memang luar biasa. Untuk menyanyi saja tidak bisa , karena terdiri berbagai lapisan masyarakat mulai dari isteri tukang becak, buruh sampai dengan pegawai, berbaur menjadi satu.Untuk paduan suara latihan dimulai pada bulan Pebruari , rata-rata seminggu latihan satu kali.Terima kasih kepada ibu Purwito yang dulunya warga Rt 02 bersedia melatih dengan penuh ketekunan.Perlu diketahui bahwa diantara RT yang berada diwilayah RW XIV kelurahan Sidotopo Wetan , kecamatan Kenjeran kota Surabaya, RT 02 lah yang sepertinya agak tersisihkan. Diantara 7 RT, RT 02 lah yang situasi dan kondisinya kurang beruntung. Boleh dikatakan kumuh, tingkat sosial ekonomi yang rendah ditambah dengan tingkat pendidikan yang kurang. Tetapi dengan semangat Kartini semua bisa bekerja sama dengan penuh kesadaran. Dukungan ketua RT beserta staf ditambah kepedulian Ibu Purwito yang dulunya warga gang Melati, akhirnya acara ini bisa terlaksana dan insya Allah hanya RT 02 yang bisa melaksanakan hari Kartini tahun ini.Kita ingin mengangkat derajat Bulak Banteng Baru gang Melati. Kita ingin berbuat sesuatu bahwa dalam keadaan apapun , kita masih sempat memperingati hari Kartini. Perjuangan beliau jangan dilewatkan begitu saja. Ini menjadi catatan bahwa peringatan hari Kartini, tidak hanya disekolah atau di kantor pemerintah saja ,kita rakyat biasapun bisa melaksanakannya” demikian Ibu Tamrin ketua PKK yang juga sebagai kepala sekolah SD menyampaikan dengan penuh semangat.
Acara dimulai pukul 19.45 WIB bertambah semarak dengan hadirnya para tamu perwakilan PKK RT 01 sampai dengan RT 07, RW XIV Sidotopo Wetan. Sambutan Ketua PKK RW yang diwakili ibu HJ. Sofiah , merasa bangga terhadap terselenggaranya acara hari Kartini ini “ Selamat kepada RT 02, ini menjadi peringatan RT-RT lain. Kalau RT 02 bisa melaksanakan, mengapa RT lain yang lebih mampu tidak bisa ? “ kata ibu Sofiah setengah bertanya “ Banyak yang bisa kita ambil seri tauladan perjuangan RA Kartini . Kita bisa berbuat sesuatu untuk kemajuan bersama, tanpa menghilangkan kodrat seorang ibu, kodrat seorang wanita. Banyak tokoh yang mengangkat derajat kaum wanita, entah itu berprofesi seorang dokter, guru dan masih banyak lagi“kata ibu Hj Sofiah.
Sedangkan Ibu Mujianto setelah membacakan riwayat singkat R.A Kartini juga menyampaikan pesan, pentingnya membaca . “ Ingat ibu-ibu, bahwa seorang ibu bisa tanggap berkat pengetahuan. Pengetahuan diperoleh dengan rajin membaca. Ibu kita Kartini terbuka hatinya setelah korespondensi atau surat menyurat dengan sahabat penanya yang dinegeri Belanda waktu itu. Kegemaran membaca dan menulis, akan menambah wawasan, pengetahuan kita bertambah. Kita sebagai seorang wanita, yang juga sebagai pendamping suami , punya hak, punya derajat yang sama dengan kaum priya dengan catatan tidak meninggalkan korat sebagai wanita .Belajar tidak hanya dibangku sekolah, apalagi kita sudah tua , bahkan ada yang sudah menjadi nenek.Tidak mengenal batas usia untuk belajar.Berilah contoh kepada anak cucu kita, bahwa kita yang tua-tua ini masih mau belajar ” ujar ibu Mujianto, yang juga isteri mantan guru SMA Negeri dikota Surabaya. Setelah pembagian hadiah yang meliputi keluwesan dan lomba merias tanpa kaca,
acara ditutup pukul 21.00 WIB tepat.
menawi badhe mirengaken lagu saking pkk rt 02 rw 14 bulak banteng baru gg melati klik wonten mriki
Jumat, 26 April 2013
KUCARI JALAN TERBAIK
Sepanjang kita masih terus begini
Tak kan pernah ada damai bersenandung
Kemesraan antara kita berdua
Sesungguhnya keterpaksaan saja
Senyum dan tawa hanya sekedar saja
Sebagai pelengkap sempurnanya sandiwara
Berawal dari manisnya kasih sayang
Terlanjur kita hanyut dan terbuai
Reff: Kucoba bertahan mendampingi dirimu
Walau kadangkala tak seiring jalan
Kucari dan selalu kucari jalan terbaik
Agar tiada penyesalan dan air mata.
menawi badhe mirengaken lagu menika kula aturi klik wonten mriki
Senin, 22 April 2013
R.A KARTINI
Raden Ajeng Kartini atau R.A.KARTINI lahir pada tanggal 21 April 1879 dari ayah bernama Raden Mas Sosrodiningrat yang saat itu masih menjabat sebagai WEDANA di MAYONG Jepara.Ibunya bernama Mas Ajeng NGASIRAH istri pertama tapi bukan yang utama,karena ibunya bukanlah keturunan bangsawan tinggi ,maka ibunya berpredikat Garwo Ampil (selir) memiliki 8 orang anak 5 putra dan 3 putri, kartini adalah anak ke 5 dari 11 bersaudara (1 ayah 2 ibu).
Yang menjadi istri utama ayahnya adalah RADEN AJENG WOERJAN (MOERJAM) keturunan raja Madura,yang berpredikatsebagai GARWO PADMI (permaisuri)sehingga ayahnya dapat diangkat sebagai BUPATI Jepara sesuai aturan Belanda saat itumenggantikan ayah si garwo padmi memiliki 3 saudara.
Pada masa kecilnya Kartini di panggil ayah/ibunya dengan nama “TRINIL” yaitu seekor burung yang lincah dan cekatan di daerah itu pada masa itu.Jadi nama panggilan itu sesuai dengan sikap dan prilakunya yang lincah,rajin, cekatan dan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Kartini sudah diberi kepercayaan oleh orang tuanya untuk mengurus rumah tangga dan merawat adik-adiknya.
Menginjak masa remaja, Kartini termasuk anak yang pandai,suka belajar dan bergaul dengan teman sebayanya,bahkan pada masa itu Kartini mendapat kesempatan dan diperbolehkan sekolah di EUROPESE LAGERE SCHOOL (ELS) sampai usia 12 tahun, ia seorang yang cerdas. Setelah usia 12 tahun Kartini harus tinggal dirumah (dipingit).Dirumah, karena Kartini pandai berbahasa Belanda ia melakukan korespondensi dengan teman-temannya yang berasal dari Belanda satu diantaranya adalah ROSA ABENDANON,yang banyak mendukungnya dan memberinya berbagai saran dan masukan pengetahuan dan ide-ide.Kartini juga banyak membaca berbagai macam buku-buku,koran,majalah dan bacaan lainnya kesemuanya berbahasa Belanda dan pengaruh buku-buku itulah mempengaruhi hati dan pikirannya untuk memberontak kepada:
1. Kekejaman Belanda terhadap masyarakat Jawa.
2. Kekejaman adat dan tradisi Jawa kepada anak perempuan
Buku yang paling mempengaruhi dan menggugah hati Kartini masa itu adalah MINNEBRIEVEN dan MAX HAVELAAR karya MULTATULI yang berisi tentang : ORANG JAWA DIANIAYA, AKU AKAN MENGHENTIKANNYA, TUGAS MANUSIA IALAH MENJADI MANUSIA.
Karena beliau lahir dari keluarga bangsawan dan didukung oleh teman-temannya keturunan Belanda, maka secara tidak langsung telah membentuk Kartini menjadi wanita yang moderen dan berpengetahuan yang luas, tak heran pada usianya 20 tahun Kartini telah berani mengemukakan tekadnya untuk membebaskan kaum wanita Indonesia dari tradisi yang mengikat dengandengan menuntut EMANSIPASI WANITA yaitu Kemerdekaan,persamaan hak dan kebebasan seperti laki-laki, Kartini juga ingin mewujudkan cita-citanya melalui perjuangan pendidikan.
.Pada tanggal 12 nopember 1903 Kartini di suruh menikah oleh orangtuanya dengan RADEN ADIPATI JOYODININGRAT Bupati Rembang sebagai istri ketiga dengan syarat :
1. Memberikan kebebasan dan mendukung didirikannya sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor Kabupaten Rembang.
2. Wanita harus setara dengan kaum pria dan tidak diperlakukan semena-mena
3. Hak dan Derajat wanita sama dengan pria baik dalam pendidikan maupun dalam perkawinan.( ref. dara yuan.blc).
Langganan:
Postingan (Atom)


